Saya
punya banyak cita – cita. Dan selalu berubah – ubah dari saya TK sampai
sekarang. Kadang ingin jadi koki, astronot, guru, dan lain – lain. Namun seiring
berjalannya waktu, saya merasa punya banyak cita – cita itu memusingkan.
Akhirnya saya punya satu cita – cita.
Saya sangat ingin menjadi dokter,
spesialis bedah. Pemikiran ini muncul tiba – tiba setelah saya menonton sebuah
film. Iya, sebuah film. Terdengar bodoh mungkin, mendapat cita – cita dari
sebuah film. Tapi saya sangat ingin dan merasa mampus untuk mencapai itu, saya
rasa kenapa tidak?
Masuk SMA dengan jurusan IPA itu
sulit menurut saya, apalagi masuk perguruan tinggi fakultas kedokteran. Nilai
IPA saya saat ini memang biasa – biasa saja. Orang – orang yang mendengar
cerita saya tentang cita – cita saya terkejut. Entah karena terdengar seram dan
mengetahui bahwa itu cita – cita yang sulit digapai.
Orang bilang butuh usaha ekstra
keras untuk mendapatkan gelar itu, apalagi dengan nilai saya sekarang yang bisa
dibilang biasa sekali. Tapi saya yakin, dengan usaha maksimal saya bisa
mendapat gelar tersebut. Harus bisa. Walaupun tidak menjadi dokter spesialis
bedah, setidaknya saya ingin jadi dokter.
Dokter bedah ini tidak pernah saya
pikirkan sebelumnya. Bahkan saya tidak pernah mau jadi dokter, ya karena
tingkat keketatan dan kesulitannya. Hanya karena satu film itu, saya juga tidak
tahu kenapa jadi sangat tertarik dengan cita – cita dokter bedah. Padahal
dokter bedah itu kerjanya lihat darah hampir setiap saat, bermain dengan alat
tajam, dikejar waktu dan lainnya. Tapi
saya merasa jadi dokter bedah itu suatu hal yang seru.
Iya saya tau profesi ini tidak main – main,
sangat serius memang. Butuh ketelitian dan ketelatenan untuk menjadi seorang
dokter. Dokter apa saja. Tapi karena masih lama saya tidak ingin terlalu
memikirkan yang akan memberatkan kepala saya. Cukup belajar yang rajin,
perbaiki nilai – nilai jelek, dapat NEM bagus, dan masuk SMA dengan jurusan
IPA.